Sabtu, 21 Januari 2012

Kemenangan Jepang atas Rusia Tahun 1905

Kemenangan Jepang atas Rusia Tahun 1905, Awal ‘Kebangkitan’ Asia

russojapanese01.jpgrussojapanese02.jpg
 Kebangkitan nasional yang kita peringati itu sebenarnya terinspirasi dari sebuah peristiwa di luar negeri beberapa tahun silam sebelumnya yaitu perang Rusia-Jepang tahun 1904-5. Perang yang dimenangkan oleh Jepang ini membuat bangsa-bangsa di Asia sadar bahwa sebenarnya mereka tidak kalah kehebatannya dari bangsa-bangsa Eropa atau barat dan juga ‘mematahkan mitos’ bahwa orang Asia lebih inferior dari orang Eropa dan juga bahwasannya orang kulit putih Eropa ‘tidak bisa dikalahkan’. Nah untuk itu, untuk postingan kali ini saya mencoba untuk menguraikan sedikit tentang perang yang bersejarah bagi bangsa2 di Asia tersebut serta apa yang menyebabkan perang tersebut.
PRA-PERANG
Awal abad ke-17 (1603) keluarga kaisar di Jepang telah kehilangan keefektifannya dalam memerintah negara dan pemimpin militer yang disebut shogun yang bernama Tokugawa Ieyasu, mengambil alih kekuasaan di Jepang (yang sejak saat itu pemerintahan di Jepang dinamakan pemerintahan Shogun Tokugawa). Sejak saat itupula Tokugawa menutup pintu Jepang bagi dunia luar, dan selama dua setengah abad, Jepang menjadi negara yang terisolasi dari dunia luar dan menjadi negara yang terbelakang.
Tahun 1854, Isolasi Jepang berakhir ketika Komodor AL Amerika Serikat, Matthew Perry mendarat di Jepang. Perry yang ditugasi pemerintah AS untuk membuka pasar Jepang yang kalau perlu dengan kekerasan, membawa beberapa kapal perang jenis fregatnya guna memuluskan rencana itu. Tahun 1853, Perry mendarat di Edo (sekarang menjadi Tokyo) namun pemerintahan Shogun Tokugawa Jepang memerintahkan armada AS tersebut untuk ke Nagasaki karena hanya di kota itulah pelabuhan di Jepang yang terbuka untuk asing, itupun hanya dikhususkan untuk kapal2 Belanda saja. Namun Perry menolak dan membacakan isi surat Presiden AS waktu itu Millard Fillmore yang isinya bernada ancaman apabila pemerintahan Shogun menolak maka armada AS tersebut tidak segan2 akan menggunakan kekerasan.
Sadar akan persenjataan dan kapal2nya yang jauh lebih primitif dari kapal2 perang AS, pemerintahan Shogun mengalah dan membiarkan Perry dan armada AS mendarat di Kurihama (sekarang: Yokosuka). Kedatangan Perry di Jepang ini, berujung pada konvensi atau perjanjian Kanagawa di tahun 1854 yang mengakhiri isolasi Jepang dari dunia luar. Namun keterbukaan ini harus dibayar mahal oleh pemerintahan Shogun di Jepang, dengan jatuhnya pemerintahan Shogun di tahun 1868 dan diambil alih oleh kaisar muda Meiji yang terkenal dengan restorasi Meiji-nya (明治維新). Pada masa itu banyak fihak di Jepang sadar bahwa Jepang sangat rentan terhadap ancaman-ancaman kekuatan barat dan satu2nya cara untuk menepis ancaman itu adalah dengan cara memodernisasi Jepang dengan cara mengadopsi gaya2 barat terutama di bidang ilmu dan teknologi agar Jepang dapat tumbuh menjadi negara industri maju sejajar dengan negara2 barat. Restorasi Meiji inilah sebagai katalis dalam kemajuan Jepang menuju negara industri maju. Keberhasilan Restorasi Meiji ini diakui dunia tidak ada bandingannya di seluruh dunia. Dalam jangka waktu hanya sekitar 30 tahunan telah berhasil membawa Jepang dari negara terisolasi, terbelakang dan tradisional menjadi negara maju yang kompetitif dengan negara2 barat. Sebagai perbandingan, Indonesia yang sudah merdeka 60 tahunan, boro2 sejajar dengan negara maju, dibandingkan negara tetangga Singapura dan Malaysia ( negara yang disebut terakhir ini kemajuannya sebenarnya sangat superfisial) saja masih ketinggalan.
Untuk memuluskan cita2nya menjadi negara industri, Jepang sadar harus melindungi kepentingan dan keamanannya dari gangguan2 kekuatan asing. Untuk itu Jepang bertekad untuk merebut Korea dari tangan dinasti Qing China tahun 1894. China yang pernah menjadi negara besar di masa lalu, pada saat itu (akhir abad ke-19) menjadi negara yang ‘primitif’ dibandingkan Jepang yang pada tahun 1894 sudah mulai berhasil mengadopsi teknologi barat dan mengadopsi struktur militer gaya barat. Perang yang agak berat sebelah ini tentu saja berakhir dengan kemenangan Jepang dan membuat China bukan hanya kehilangan Korea tetapi juga kehilangan pulau Formosa dan juga Port Arthur di Manchuria. Kemenangan ini membuat Jepang lebih bertekad untuk menyebarkan pengaruh dan kekuasaannya di Timur Jauh. Namun di Timur Jauh ada kekuatan Eropa yang mempunyai kepentingan sama yaitu: Rusia! Di sinilah mulai terjadi friksi2 antara kepentingan kedua negara yang menjurus kepada perang di tahun 1904-5.
MASA PERANG
Sejak awal Rusia menentang akses dan penguasaan Jepang di Port Arthur, apalagi Port Arthur kala itu tengah disewa Rusia dari China sebagai basis angkatan laut Rusia di Timur Jauh sehingga Rusia menolak meninggalkan Port Arthur. Setelah serangkaian perundingan dan diplomasi yang melibatkan juga berbagai fihak asing lainnya seperti Perancis dan Jerman (yang condong memihak Rusia) serta Inggris (yang condong memihak Jepang) yang tidak membuahkan hasil, maka pada tanggal 8 Februari 1904 (tepat 104 tahun yang lalu saat postingan ini dibuat!) Jepang memutuskan untuk menggunakan kekerasan dan menyerang armada laut Timur Jauh Rusia di Port Arthur.
Pada masa-masa itu, armada angkatan laut Rusia terpusat di Laut Baltik di Eropa karena Rusia merasa musuh2 terbesar Rusia berada di daratan Eropa sehingga ketika terjadi penyerangan terhadap armada laut Rusia di Timur Jauh, Rusia terkesan tidak siap. Untuk itu Rusia harus memperkuat armada laut Timur Jauhnya dari armada Luat Baltiknya dan untuk itu kapal2 perang Rusia harus berlayar 18.000 mil jauhnya menuju lokasi peperangan melintasi 3 samudra (Atlantik, Hindia dan Pasifik)! Dan celakanya secara teknis kapal-kapal perang Rusia tersebut kebanyakan tidak siap untuk berlayar sejauh itu. Namun apa boleh buat, setelah modifikasi secukupnya diadakan, kapal tetap harus berangkat memperkuat armada Timur Jauh Rusia.
Sementara Jepang sendiri pada awal peperangan tidak terlalu sukses untuk melumpuhkan armada angkatan laut Rusia apalagi merebut Port Arthur. Untuk itu Jepang berinisiatif juga untuk melancarkan perang di darat untuk merebut Port Arthur sekaligus merebut Manchuria dari tangan Rusia (sambil menyelam minum air!). Untuk itu Jepang yang menguasai Korea melancarkan serangan ke daratan Manchuria melewati sungai Yalu. Strategi Jepang ini terbukti efektif dan sedikit demi sedikit menggerogoti kekuatan Rusia di Manchuria dan Port Arthur. Namun Jepang tidak mengendorkan penyerangan di Laut juga di bawah pimpinan Laksamana Heihachiro Togo. Lewat kombinasi serangkaian pertempuran di laut, - dan darat akhirnya Port Arthur jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 2 Januari 1905.
Dengan keberhasilan Jepang merebut Port Arthur, harapan Rusia kini tinggal menunggu armada laut Baltik Rusia pimpinan Laksamana Zinovy Rozhestvensky, yang pada saat Port Arthur jatuh masih berlayar menuju lokasi peperangan di Timur Jauh. Namun ketika armada laut Baltik Rusia ini mencapai selat Tsushima pertempuran dengan angkatan laut Jepang tak terhindarkan. Pertempuran yang berlangsung dua hari 27-28 Mei 1905 ini, hasilnya sungguh mengecewakan bagi fihak Rusia. Armada Baltik Rusia ini dihancurkan dan hanya tiga kapal saja yang selamat dan melarikan diri ke Vladivostok, Rusia. Dengan berakhirnya perang di Selat Tsushima berakhir pula harapan Rusia untuk memenangi peperangan ini sehingga Rusia terpaksa menandatangani perjanjian perdamaian dengan Jepang, namun ongkos yang dibayar Rusia sangat besar. Rusia bukan saja kehilangan Port Arthur tapi juga kehilangan seluruh kepulauan Sakhalin yang diserahkan kepada Jepang.
PASCA PERANG
Kemenangan Jepang atas Rusia ini mempunyai implikasi luas di dunia internasional. Kemenangan ini bukan saja berimbas kepada prestise Rusia yang menurun di mata internasional kala itu, tetapi juga tercatat sebagai sejarah tersendiri. Inilah untuk pertama kalinya selama berabad-abad sebuah kekuatan Asia dapat mengalahkan kekuatan Eropa (barat).

Kamis, 12 Januari 2012

Audi A6 Allroad 2013: Audi A6 Avant Pelahap Semua Medan

audi allroad 2013 4 460x306 Audi A6 Allroad 2013: Audi A6 Avant Pelahap Semua Medan
INGOLSTADT (DP) – Audi A6 Allroad 2013 akan bertempur di segala medan ketika dipasarkan pada musim semi 2012. Generasi ketiga Audi Allroad ini masih menggunakan platform Audi A6 Avant.
Allroad quattro baru memiliki panjang 4,94 m, lebar 1,90 m dan tinggi 1,47 m. Tubuh Allroad 6 cm lebih tinggi dari A6 Avant. Dimensi tersebut membuat Allroad lebih besar sedikit dari A6 Avant.
Audi menggunakan konstruksi ringan. Aluminium menyebar di 20% tubuh Allroad. Total bobotnya lebih ringan 70 kg dari model sebelumnya.
Mobil ber-wheelbase 2,91 meter ini menawarkan ruang kargo 565 – 1680 liter. Lampu LED tidak hanya hadir di bagian depan mobil, pun di interior. Bang & Olufsen Advanced Sound System dilengkapi 15 speaker.
Anda tetap terkoneksi dengan dunia luar selama berada di dalam mobil berkat koneksi internet via UMTS dan WLAN hotspot. Layanan dari Google seperti Google Earth, Google Street View dan pencarian lokasi POI (points of interest) via suara bisa Anda nikmati.
Adaptive Cruise Control (ACC) dengan fungsi stop & go selalu menjaga jarak selamat Allroad dengan mobil di depannya. Pada kecepatan di bawah 30 km/jam, sistem ini dapat mengerem jika mengidentifikasi potensi kecelakaan.
Audi akan melempar 4 pilihan mesin V6 ke pasar. Mesin pertama 3.0 TFSI dengan tenaga 310 hp dan torsi 440 Nm. Akselerasi 0-100 kpj dituntaskan dalam 5,9 detik. Konsumsi bensinnya 11,24 km/liter.
Tiga pilihan mesin lainnya berbahan bakar diesel 3.0 TDI dengan tenaga 204 hp, 245 hp dan 313 hp. Konsumsi bahan bakar 3.0 TDI 204 hp diklaim 16,39 km/liter.
Mesin TDI paling bertenaga dikencani transmisi tiptronic 8-speed. Sedangkan 3 model lainnya menggunakan transmisi S tronic 7-speed.
Audi akan melepas Audi Allroad 204 hp dengan harga € 54600 atau sekitar Rp 639 juta. Namun, harga tersebut berlaku di pasar Jerman. [dp/Ind]